Larangan bagi orang yang ingin berkurban
Larangan bagi orang yang ingin berkurban
Ada sejumlah laranganan yang patut diperhatikan bagi siapa saja yang hendak melakukan ibadah kurban. Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ، وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا “Apabila telah memasuki sepuluh (dzul hijjah) dan seseorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun.” HR. Muslim [1], ibnu majah[2], An-Nasa’i[3], Ahmad[4] Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan dalam kitab Ahkam al-Udhhiyah wa Dzakaah, bahwa hadits ini menunjukkan akan larangan untuk mencukur rambut dan memotong kuku bagi siapa saja yang ingin berkurban, yaitu mulai dari awal bulan Dzul hijjah sampai dia berkurban. Beliau juga menjelaskan, adapun bagi orang yang telah masuk bulan Dzul hijjah, sedangkan dia tidak ingin berkurban, kemudian di tengah-tengah 10 hari pertama dia ingin berkurban, maka hendaknya ia menjaga rambut dan kukunya untuk tidak dipotong. Yaitu dimulai dari hari dia ingin berkurban. Adapun jika dia telah memotong rambut dan kukunya di hari-hari sebelumnya maka hal itu tidak mengapa. Kemudian para ulama berselisih pendapat, apakah larangan disini bersifat makruh atau haram? Pendapat paling kuat mengatakan bahwa larangan ini bersifat haram. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah kaidah ushul, bahwa hukum asal dari larangan ialah menunjukkan keharaman, yaitu jika tidak ada dalil yang mengubah hukum asalnya. Akan tetapi, bagi orang yang terlanjur melakukannya, ia tidak perlu membayar fidyah, karena tidak ada dalil yang memerintahkan itu. Adapun hikmah dari larangan ini wallahu a’lam, orang yang berkurban berarti ia telah mengikuti amalan orang yang sedang berihrom, yaitu pada sebagian amal ibadah mereka. Karena itu, bagi mereka yang melakukan ibadah penyembelihan kurban, dia dapat dihukumi seperti orang-orang yang berihrom. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman untuk orang-orang yang berihrom, وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ “Janganlah kamu mencukur kepalamu, sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya” (Al-Baqarah [2]: 196). Bagi yang mencukur kuku atau memotong rambut, apakah kurbannya tidak diterima? Sebagian orang mengira, bahwa siapa saja yang mencukur rambut dan memotong kuku di 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah, maka hewan kurbannya tidak akan diterima. Pendapat ini tidak dapat dibenarkan, karena tidak ada hubungan antara diterimanya hewan kurban dengan apa yang dia ambil dari rambut dan kukunya. Hanya saja, bagi orang yang memotong atau mencukur tanpa ada ‘udzur, maka dia telah melanggar perintah Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam. Karena perbuatannya itu, ia harus meminta ampunan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan bertaubat kepadaNya, serta berjanji untuk tidak mengulanginya. Adapun hewan kurbannya, maka tetap diterima di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Berbeda dengan orang yang mencukur rambut atau memotong kukunya karena keadaan mendesak, maka tidak menjadi masalah. Seperti jika ia terkena luka atau yang semisalnya sehingga mengharuskan untuk mencukur rambut atau memotong kuku. Apakah larangan ini berlaku juga bagi tukang jagal yang menyembelih ? Para ulama menjelaskan, bahwa larangan dalam hadits di atas hanya diperuntukkan bagi mereka yang berkurban, atau juga orang yang berkurban dengan niat sekaligus menghadiahkan untuk orang lain, seperti keluarga atau yang lainnya. Adapun orang yang diminta untuk mewakili penyembelihan, seperti halnya tukang jagal atau yang lainnya, maka larangan ini tidak berlaku terhadap mereka. Begitu juga orang yang disembelihkan untuknya oleh orang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam dalam hadits di atas, beliau menyembelih untuk keluarganya, dan beliau tidak melarang mereka untuk memotong rambut atau pun kuku mereka. Wallahu a’lam. Sumber: Kitab Ahkam al-Udhhiyah wa Dzakaah, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Penyusun: Adam Nur Fiqri, Lc. [1] Shahih Muslim no. 1977 [2] Sunan ibnu majah no. 3149 [3] As-Sunan As-Sughro linnasa’i no. 4364 [4] Musnad Imam Ahmad no. 26474