Apakah Petugas Kurban Mendapat Bagian Daging?

Apakah Petugas Kurban Mendapat Bagian Daging?
Deskripsi

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu  ia berkata,

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ  أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَنْ أُقَسِّمَ لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلَالَهَا عَلَى الْمَسَاكِينِ، وَلَا أُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا شَيْئًا مِنْهَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

“Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengawasi hewan kurban beliau, dan membagikan daging, kulit, dan pelananya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi upah jagal sesuatu apa pun dari hewan tersebut.” Muttafaqun ‘alaih.

Hadits di atas menjadi dalil yang sangat jelas bagi para ulama, bahwa mengambil daging kurban untuk diberikan kepada tukang jagalnya hukumnya tidak boleh. Hal ini dikarenakan, jika tukang jagal mendapat upah berupa daging dari hewan kurban tersebut, maka hal itu masuk dalam kategori jual beli, sedangkan daging kurban dan kulitnya tidak boleh diperjualbelikan seperti halnya yang berlaku pada hukum sembelihan haji.

Ibnu Rusd dalam kitab Bidayatul Mujtahid megatakan, ‘Para ulama bersepakat, sejauh yang aku ketahui, bahwa menjual hewan kurban hukumnya tidak boleh. Akan tetapi mereka berbeda pendapat terkait kulit, bulu, atau yang lainnya dari hewan kurban yang dapat dimanfaatnya. Mayoritas ulama mengatakan hukumnya tidak boleh. Abu Hanifah berpendapat, hukumnya adalah boleh selama tidak menggunakan uang dinar atau dirham, yakni menggunakan ‘arudh (barang-barang selain uang). Wallahu a’lam bishawab

Sumber: Kitab Subulus Salam Karya Imam ash-Shan’ani, Bab Sembelihan Kurban.

Disusun oleh: Thoyibul Ihsan, Lc.