KEUTAMAAN PUASA ARAFAH

KEUTAMAAN PUASA ARAFAH
Deskripsi

Puasa Arafah ialah puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzul Hijjah. Disebut puasa Arafah dikarenakan pada saat ituorang-orang yang melakukan ibadah haji sedang wuquf di Arafah. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu Arafah.”[1]

            Adapun bagi mereka yang tidak melakukan haji, atau belum mampu untuk melakukanya, maka mereka disunahkan untuk berpuasa. RasulullahSallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah, dapat menghapuskan dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang, sedangkan puasa Asyura, aku berharap kepada Allah, dapat menghapuskan dosa satu tahun yang akan datang.” (HR Muslim 1162)

            Para ulama kemudian menjelaskan, apa yang dimaksud dari diampuni dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Apakah seluruh dosa diampuni, baik itu kecil maupun besar, atau sebatas dosa-dosa kecil saja tanpa dosa-dosa besar?

            Imam an-Nawawi dalam syarah Syarah Shahih Muslim menjelaskan, bahwa yang dimaksud dosa yang diampuni di sini adalah dosa-dosa kecil. Jika ia tidak memiliki dosa-dosa kecil, maka diharapkan dapat meringankan dosa besar yang ia lakukan. Dan jika ia tidak memiliki dosa besar, maka diharapkan derajat dirinya ditinggikan.[2]

                Ibnu Taimiyyah menjelaskan, penyebutan bahwa puasa ini dapat menghapuskan dosa satu taun yang lalu dan satu tahun yang akan datang tidak mengharuskan adanya pengampunan juga terhadap dosa-dosa besar tanpa adanya taubat kepada Allah. Karena Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallamdalam hadits lain beliau juga bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat lima waktu, Jum’at satu ke jum’at berikutnya, Ramadhan satu ke Ramadhan berikutnya, adalah penghapus (dosa yang dilakukan) di antara waktu-waktu tersebut, apabila dosa-dosa besar dihindari.” (HR Muslim 233)

            Selain itu, bukankah ibadah puasa tidak lebih mulia dari ibadah shalat, dan puasa Ramadhan lebih mulia dari pada puasa Arafah? Dan itu pun tidak dapat menghapuskan keburukan-keburukan kecuali dengan meninggalkan dosa-dosa besar, sebagaimana telah dibatasi oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas. Lalu bagaimana bisa di yakini, bahwa puasa sunnah satu atau dua hari dapat menghapus dosa zina, mencuri, sihir, minum khamr dan yang lainnya?[3]

Namun demikian, puasa Rafah adalah ibadah mulia yang tidak boleh diremehkan oleh kaum muslimin. Terlebih lagi dengan keutamaan yang telah Allah dan Rasul-Nya jelaskan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi kaum muslimin untuk berloma-lomba meraihnya. Wa Billahi Taufiq.

 

Oleh: Thayibul Ihsan, Lc.



[1] HR Ibnu Majah, no 3015, dan yang lainnya. Dan dishahihkan oleh al-Albani.

[2] Lihat kitab Syarah Shahih Muslim, karya Imam an-Nawawi, jilid 8 hal 51.

[3] Lihat al-Mustadrak ‘ala majmu’ al-Fatawa karya Ibnu Taimiyyah, jilid 3 hal 126.