Apa hukum patungan hewan kurban?

Apa hukum patungan hewan kurban?
Deskripsi

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala Rabb semesta Alam, shalawat dan salam kita curahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan kepada para pengikutnya hingga hari kiamat kelak, amma ba’du;

            Berkurban merupakan persembahan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala di hari raya Idul Adha dan tiga hari setelahnya, berkurban merupakan amalan yang utama, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan di dalam Al-Qur’an Al-Karim bersamaan dengan Shalat,

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ(2) الكوثر 1-2

“Sungguh, kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena tuhanmu, dan berkurbanlah” (Al-Kautsar [108] 1-2)

Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) الأنعام 162

“Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam” (Al-An’am [6] 162)

            Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua hewan kurban, yang satu untuk dirinya dan keluarganya, dan satunya lagi untuk ummatnya, sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata:

 ((كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ، وَأَنَا أُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ)) رواه البخاري و أحمد و النسائي

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua domba, sementara aku juga berkurban dengan dua ekor domba” HR. Bukhari, Ahmad dan An-Nasa’i,.[1]

            Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan bahwa bersekutu/kongsi itu ada dua jenis:

1.       Bersekutu dalam Kepemilikan

 

Bersekutu dalam kepemilikan (patungan) yaitu ketika dua orang atau lebih membayar untuk membelikan satu hewan kurban, dalam hal ini dibolehkan patungan dengan batas maksimal tujuh orang untuk seekor sapi atau unta, tetapi tidak boleh dua orang atau lebih bersekutu dalam kepemilikan (patungan) untuk membeli seekor kambing, sebagaimana dalam sebuah hadits yang shahih diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu ia berkata:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: «نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ، وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ» رواه مسلم و أبو داود و الترمذي

“Kami pernah menyembelih kurban bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tahun perjanjian hudaibiyah, lalu kami menyembelih seekor unta dari tujuh orang bersekutu, dan seekor sapi dari tujuh orang yang bersekutu” HR. Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmidzi[2]

2.       Bersekutu dalam Pahala

Adapun bersekutu dalam pahala, yaitu ketika seseorang membeli seekor hewan kurban seperti kambing, sapi, atau unta dengan niat untuk dirinya dan menghadiahkan keluarganya atau orang lain, maka dalam hal ini tidak mengapa, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih untuk dirinya, keluarganya dan ummatnya, dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ، وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ، وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ، فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ، فَقَالَ لَهَا: «يَا عَائِشَةُ، هَلُمِّي الْمُدْيَةَ»، ثُمَّ قَالَ: «اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ»، فَفَعَلَتْ: ثُمَّ أَخَذَهَا، وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ، ثُمَّ ذَبَحَهُ، ثُمَّ قَالَ: «بِاسْمِ اللهِ، اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ، وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ، ثُمَّ ضَحَّى بِهِ» رواه مسلم

“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh untuk diambilkan dua ekor domba bertanduk yang di kakinya berwarna hitam, dan di kedua matanya terdapat belang hitam. Kemudian domba tersebut diserahkan kepada beliau untuk dikurbankan, lalu beliau bersabda kepada Aisyah: “wahai Aisyah, bawalah pisau kemari.” Kemudian beliau bersabda: “Asahlah pisau ini dengan batu.” Lantas Aisyah melakukan apa yang diperintahkan beliau, setelah di asah, beliau mengambilnya dan mengambil domba tersebut dan membaringkannya lalu beliau menyembelihnya.” Kemudian beliau mengucapkan: “Dengan nama Allah, ya Allah, terimalah ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan ummat Muhammad.” Kemudian beliau berkurban dengannya”[3]

 

Wallahu a’lam

 

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=UZJ28ZCPm40&t=138s

Penyusun: Adam Nur Fiqri Lc.

 



[1] Shahih Al-Bukhari no. 5553, As-Sunan As-Sughro Lin-Nasa’i no. 4385, dan Musnad Imam Ahmad bin Hanbal no. 11984

[2] Shahih Muslim no. 1318, Sunan Abu daud no. 2809, Sunan At-Tirmidzi no. 904

[3] Shahih Muslim no. 1967